My Secret Love [Cerpen Remaja] - Reezumiku

Sunday, January 28, 2018

My Secret Love [Cerpen Remaja]


“Marsya,” Lelaki berambut hitam pekat dengan potongan lurus di dahinya itu berteriak kearahku. Suaranya lebur dalam keramaian kantin sekolah, namun aku bisa mendengarnya, telingaku menyaring mana yang harus didengar atau diabaikan. “Marsya!!!”
“Haish…,” dengusku. Bocah ini benar-benar menyebalkan. “Sudah aku bilang jangan panggil dengan nama itu.” Tanganku mengepal ingin menjitak kepalanya dengan punggung jariku. Namun segera kuturunkan tangan untuk menyeruput teh hangatku yang baru diantar sebelum di sambar bocah itu.
Namun, aku tetap kalah cepat dengannya. “Hey” Bahkan napasnya masih sengau dengan keringat yang mengembun di bawah hidungnya. “Enak saja minum punya orang. Sini balikin!” kataku marah sambil meraih gelas itu dari tangannya.
Tanpa merasa bersalah, suaranya yang serak dan  terdengar berat itu bukannya minta maaf tapi malah melontarkan pertanyaan. “Apa kalian sudah dapat kelompok untuk tugasnya Pak Roni?”
“Hey, kau! Memangnya aku ini pohon?!” seruku dengan tegas seperti harimau yang ingin melumat mangsanya hidup-hidup. “Aku nggak suka kamu manggil aku Marsya. Siapa yang Marsya? Kamu pikir aku anak kecil yang hidup dengan seekor beruang? Namaku Eva. Evalie Verolita Rachman. You know?”
Yes, I know, Marsya,” jawabnya singkat lalu mengalihkan pandangan pada Kristin untuk menghindari omelanku.
“Sudah, sudah. Kalian ini selalu saja ribut kalau ketemu,” Kristin, yang duduk di depanku dari tadi akhirnya menyela.
“Dia nih yang selalu bikin ribut,” tuduhku.
“Yeee… kamu tuh!” sambil menyodorkan kembali bungkus jajan yang ternyata isinya sudah berpindah tempat ke perutnya.
“Sudah! Kok mulai lagi sih.” Kristin kembali melerai.
Sebenarnya memang aku yang selalu memulai masalah dengannya. Aku yang membuat hal kecil menjadi besar yang pada akhirnya membuatku dan Firman beradu mulut. Tak pasti siapa yang menang, kadang aku terkadang juga dia. Tetapi seringkali kami seri, Kristin selalu datang untuk menengahi percekcokkan kecil kami.
Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Aku sengaja mencari masalah dengannya karena…karena aku hanya  ingin lebih dekat dengannya. Ya, aku menyukai Firman, sudah lama sejak kami kenal sebagai teman satu kelas.
“Tadi kamu tanya apa?” kata Kristin yang tak konsentrasi karena sibuk dengan tugas bahasa Inggrisnya.
“Kalian sudah dapat kelompok untuk tugas seni belum?”
Aku menggelengkan kepala dan Kristin menjawabnya singkat. “Belum.”
“Aku sama kalian ya, Bayu sama si Gun milih kelompok sama Imam. Nah, aku ditinggalin, padahal setiap kelompok hanya tiga orang. Aku gabung sama kalian ya?”
“Ih, nggak ah. Emang kamu bisa nyanyi?” sergahku.
Firman merengut lalu merebut kembali roti keringku yang lain. Ia mengambilnya begitu saja dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Aku tak melawan lagi kali ini.
“Biarin aja deh Va, meski aku juga nggak yakin sama kemampuan suara anak ini, tapi itu akan membantu kalau salah satu anggota kelompok kita itu cowok.”
“Yups, betul kata Kristin. Kamu baik banget sih.” Firman melemparkan senyum pada Kristin. Sepertinya mereka bersekongkol.
Karena di sini aku yang pernah ikut ekstrakurikuler paduan suara, mereka merasa perlu mendapat persetujuanku. Kristin terlihat biasa saja tak begitu berharap. Namun aku tak sanggup melihat wajah Firman seperti itu. Hanya tiga detik menatapnya, jantungku berdegub begitu cepat. Meski aku sudah memalingkan muka namun detakkannya masih keras terasa.
“Marsya…” rayunya.
Sebenarnya aku benci dipanggil begitu. Tapi, tak apa selama dia yang memanggilnya. “Iya,” ucapku spontan, singkat, tegas. Tak kutunjukkan tampang mengalahku.
Firman langsung berdiri dengan wajah puas. Mereka lalu tersenyum telah berhasil merobohkan pendirianku. Aku juga ikut terbahak melihat firman yang kegirangan tak tahu malu. Kami tertawa bersama dan aku sangat menyukai saat-saat seperti ini. Aku senang tertawa bersamanya. Dekat dengannya apalagi ketika dia memandangku dengan tatapan jahil itu.
***
Pulang sekolah kami berencana untuk belajar bersama di rumah Kristin. Rumahnya memang selalu menjadi pilihan karena di sana ada taman kecil yang rindang dan membuat kami betah berlama-lama, bermain atau mengerjakan tugas bersama.
“Jemput aku jam tiga tepat,” kataku singkat.
“Siap bos!” jawab Firman yakin.
Aku mengayuh sepeda dengan cepat agar segera sampai di rumah. Aku tak sabar untuk mempersiapkan semuanya. Ya, aku harus tampil cantik, aku ingin membuat Firman terpesona melihatku.
Tanpa seragam abu-abu, aku bisa menyerasikan pakaian dengan make-up yang aku pinjam dari kakak. Kupasang jepit bunga mawar untuk menahan rambut di sisi kanan. Setelan denim dan blouse ini sepertinya tidak berlebihan.
Aku harus mengatakannya! Dialogku pada bayangan diri di depan cermin.
Ah, tidak. Itu tidak mungkin, aku cewek! sisi lain diriku menjawab.
Tapi sampai kapan aku harus menunggu. Aku sudah memberi sinyal tapi dia tak juga mengatakannya. Masih berbicara dengan hatiku sendiri.
Ah, kupecah semua pikiran-pikiran itu. Aku hanya harus mengatakannya dan semua pasti baik-baik saja.
***
Aku melingkarkan tanganku erat pada pinggangnya yang kurus, jantungku masih berdetak kencang seperti biasanya. Meski ini sudah sekian kalinya dia memboncengku dengan sepeda, namun rasa ini selalu ada.
“Ada apa? kok berhenti?” tanyaku yang menyadari roda sepeta tak berputar lagi.
Firman menjatuhkan kedua kakinya ke aspal jalan. “Kita turun saja ya?!” jawabnya singkat sambil menoleh ke belakang.
“Kenapa?” tanyaku dengan tangan yang masih berpegangan pada bajunya.
“Biar bisa nikmatin pemandangan bagus tuh,” sambil menunjuk area persawahan yang masih hijau.
“Huuu…bilang saja kalau kamu capek. Biasanya lewat sini juga nggak apa-apa.”
Dia menyeringai nakal. Sungguh, itu membuat hatiku berdebar-debar. Ada perasaan bahagia dan takut bersamaan. Bagaimana jika aku mengatakannya namun dia tak menyukaiku. Akankan persahabatan kita akan menjadi canggung. Aku bingung.
Angin bertiup pelan menghempaskan rambutku yang tak begitu panjang. Desirannya seolah mengalunkan suara lembut yang membuatku semakin larut dengan gejolak hatiku sendiri.
“Kamu mau ngomong apa?” tanyanya tiba-tiba seolah mengerti bahwa aku ingin berbicara dari tadi, lebih tepatnya menyatakan cinta.
“Ah, nggak kok. Bukan apa-apa.” Sebenarnya sih apa-apa, tapi…
“Oh iya, kira-kira Kristin punya pacar nggak ya?” sela Firman. Aku terkejut Firman mengambil topik ini. Aku merasakan firasat buruk.
“Sepertinya sih belum, tapi apa dia punya seseorang yang dia suka?” tambahnya lagi sebelum aku menjawab pertanyaan pertamanya.
“Memang kenapa?” Ah, bodoh. Kenapa aku menanyakannya. Kurang jelas apalagi jika cowok sudah menyanyakan tentang hal semacam ini. Aku memang bodoh.
“Jujur ya, kamu orang pertama yang tau tentang ini. Karena bagiku, kamu teman yang sangat aku percaya jadi aku akan memberitahumu,” Firman mengambil napas sambil mempererat pegangannya pada badan sepeda.
Tunggu! Aku tak suka kata itu, Teman? Jadi dia menganggapku hanya sebagai teman dekat? Bukan teman yang spesial? Jangan-jangan, dia meminta turun dari sepeda untuk mengatakan sesuatu yang sangat aku takutkan ini.
“Sebenarnya aku menyukai Kristin,” lanjut Firman.
Rasanya darah berhenti mengalir dan napasku sesak. Apa yang baru saja dikatakannya? Kenapa? Kenapa Kristin? Kenapa bukan aku?  Kenapa sekarang di saat aku sudah bersusah payah mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan perasaanku.
“Sudah sejak…”
Aku menghentikan langkah untuk mencegah Firman bercerita lebih jauh lagi. Aku tak sanggup, aku belum siap untuk mendengarkannya. Aku tidak akan sanggup mendengarnya lagi.
“Oh, bukuku tertinggal di rumah. Aku mau mengambilnya dulu. Kamu ke rumah Kristin saja duluan.” Tanpa basa basi aku membalikkan badan lalu berjalan cepat meninggalkan Firman yang kebingungan dengan sikapku yang berubah tiba-tiba.
“Tapi…tunggu,” teriaknya. Kudengar derap sepedanya mendekat. “Biar aku antar.”
Aku memalingkan muka agar dia tak melihat bulir-bulir air mata yang mulai membanjiri pipiku, “Tidak apa-apa. Nanti aku menyusul.”
“Tidak, biar kuantar saja.” Firman masih mengejarku.
“Jangan!!!” bentakku. “Biar aku sendiri saja.” Tentu saja aku menangis. Bahkan wajahku sudah benar-benar basah sekarang. Dan aku tak mau dia melihatku seperti ini.
***
Tak ada semangat lagi dalam hariku. Aku salah telah memupuk perasaanku padanya. Harusnya cinta itu aku bunuh sejak lama sebelum tumbuh duri seperti ini. Harusnya aku menyadari dari dulu kalau kami memang hanya pantas untuk berteman, tidak lebih. Kini aku tak tahu harus bersikap bagaimana kalau bertemu dengannya, juga dengan Kristin, sahabatku.
“Eva!”
Aku tahu dengan jelas suara siapa itu. Tak seperti biasanya, ia memanggil dengan namaku yang sebenarnya. Tapi aku mengacuhkannya dan tetap berjalan melewati koridor sekolah.
“Eva, tunggu.” Firman menahan tanganku kemudian menarik pundakku hingga kami berhadapan.
“Kamu? Ada apa?” tanyaku berpura-pura. Sungguh, aku tak bisa menatapnya lagi kali ini. Itu hanya akan membuat mataku kembali memerah.
Firman hanya diam sambil menatapku lekat. pupilnya membesar. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Sepertinya dia sudah tahu perasaanku dari Kristin.
 “Oh iya, kemarin aku…aku…itu, kakakku minta diantar ke minimarket dan…aku…aku jadi lupa kalau ada janji sama kalian. Maaf ya, aku lupa,” sahutku cepat-cepat sebagai alasan.
Tangannya semakin erat mencengkeram pundakku hingga wajahku terangkat, aku melihat wajahnya dengan tatapan yang tak biasa. “Kamu bohong,” ucapnya tegas namun lembut.
“Tidak, aku nggak bohong.” Aku melepaskan tangannya dari pundakku. Namun ia semakin kuat mencengkeram. Tatapan itu tak biasa kulihat dari matanya. “Kamu nggak percaya? Aku nggak bohong!” Aku sudah tidak punya alasan lagi. Yang kuinginkan hanyalah pergi dari hadapannya hingga aku bisa menangis. Aku ingin menangis sekeras mungkin.
Tiba-tiba Firman memelukku, ya, dia memelukku. Oh Tuhan benarkah ini? Ini yang selalu aku harapkan. Hangat dalam dekapannya. Tapi kenapa aku tak menemukan sesuatu yang selama ini aku cari? Aku merasa…sakit, hatiku terasa perih.
“Maaf, maafkan aku telah membuatmu menangis.” Aku diam saja, merasakan detub jantungnya yang keras menembus dadanya yang bidang. “Maaf selama ini aku tak pernah mendengarmu. Maaf aku sudah menjadi orang yang bodoh yang melukaimu.”
“Kamu bicara apa sih, aku nggak ngerti.” Kulepaskan tubuhku dari pelukannya. Tidak. Kumohon, jangan katakan apapun lagi. Aku tak mau menangis di depanmu. Pergilah. Aku tak mau merusak persahabatanku dengan Kristin karena hal ini. Jadi, biar perasaan ini tetap menjadi milikku sendiri.
Firman masih memandangku tajam dan aku hanya membalas dengan getir.
“Kristin sudah mengatakan semuanya kalau selama ini kamu…”
“Hentikan!” Aku menahan kata-katanya. “Aku tidak apa-apa. Jadi kumohon jangan bilang apapun lagi,” teriakku jelas. Firman agak terkejut. Aku juga tak sadar sudah meneriakinya yang sama saja aku mengungkapkan perasaanku padanya.
Firman perlahan melepaskan genggamannya. Tak perlu mengatakan apa-apa lagi, aku tidak mau mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya. Aku tak mau dikasihani. Aku juga tak mau bila semua ini akan menghancurkan persahabatan kami. Lebih tepatnya aku tak akan sanggup bila masalah ini akan membuatku tak bisa melihat wajah ceria dan senyum lebarnya. Sudah cukup bagiku mengetahui semua ini dan aku tak apa harus merasa sakit asalkan aku bisa tetap bersamanya, sebagai sahabat.


 *END*

Picture from: Shiritsu Bakaleya Koukou Dorama

1 comment:

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools