KAMPUS FIKSI MALANG - Reezumiku

Wednesday, April 23, 2014

KAMPUS FIKSI MALANG

20 April 2014


Hmmm……… Apa yaaa….. Hmmm…… Lama nggak nulis di blog nih…………. Jadi bingung harus mulai dari mana… Hmmmm…………………… Udah bikin judul : Kampus Fiksi Road to Malang, tapi……………..  ngga tau mau nulis isinya…………………….
Gini aja deh, dari pada makin bingung dan blog ini cuman berisi titik-titik doang dan semakin ngaco, juga banyak typo, mending cerita dari awal………………… sangat awal………………. (Eh… kok pakai titik-titik lagi)

Awalnya berharap banget Kampus Fiksi Road Show bisa mampir di Jawa Timur, Blitar, Kediri, Tulungagung atau paling banter ya di Malang atau Surabaya. Akhirnya Malang menjadi tempat singgah Pak Edi Mulyono dan tim yang lain.
Ada seorang teman yang bertanya, “Ngapain sih harus ikut Kampus Fiksi Road Show? Bukannya kamu udah member Reguler? Paling materinya sama aja. Lebih banyak yang Reguler juga kan?! Kayak nggak punya kerjaan aja.”
Hm…  Kalau mengartikan “kerjaan” dengan makna aslinya ataupun makna lain dan makna kiasannya, pasti teman-temanku tahu semua . Ya, tentu saja aku punya “kerjaan” yang benar-benar kerjaan, juga “kerjaan” sebagai kesibukan yang menjadi rutinitas, atau “kerjaan” yang menjadi kesenangan sampingan.  Namun aku tak juga menemukan alasan yang bisa mewakili jawabanku atas pertanyaan itu. Satu-satunya jawaban yang keluar dari mulutku adalah, “Karena aku mau.”
Aku tak perlu mengatakan atau meyakinkan orang lain akan artinya Kampus Fiksi bagiku. Yang pasti aku merasa senang, aku merasa bahagia dan tak peduli seberapa besar aku kehilangan atau seberapa besar yang aku dapatkan dari Kampus Fiksi. Aku mau. Aku Suka. Hanya itu, nggak ada yang lain. 

Dan dengan segala keterbatasan akhirnya aku berangkat ke Malang, berempat. Salah satunya dengan karibku.



Keterbatasan? Yaps… Mulai dari tempat menginap yang entah mau tidur dimana. Menuju Perpus Kota, lokasi Kampus Fiksi Road Show naik apa. Tanya jalan ke siapa dan semua yang serba keterbatasan lainnya. Apalagi waktu di kereta dapat wejangan dari seorang bapak-bapak yang mengaku baru dari Trenggalek.
“Hati-hati ya, di sana banyak orang jahat. Anak saya saja sudah habis 4 hape,” katanya menasehati.
Entah darimana pikiran buruk itu muncul, habis di jual anaknya sendiri apa benar-benar di copet tuh?! Hm… abaikan yang ini. 
Untungnya si bapak tadi orang yang baik dan bersedia mencarikan angkot ber-kode AL untuk menuju ke salah satu kos temennya temenku.
Beruntungnya lagi, ada mbak (aku nggak tau namanya) yang sudah bersedia memberi tumpangan di saat-saat darurat. Yang rencananya tadi mau menginap di rumah saudaranya teman ternyata yang punya rumah sedang keluar kota. Hampir selama perjalanan di kereta kami panik mencari koneksi teman maupun kerabat di Malang. Ada yang menyarankan buat tidur di Masjid atau mushola, bahkan salah seorang penumpang yang duduk di depanku bilang agar tidur di warnet 24 jam saja yang punya ongkos murah dari pada harus menyewa tempat. Hm….. that was my first time visited Malang you know.
Ok… angap saja itu kepanikkan awal. Lalu, dari mbak yang aku nggak tahu namanya, aku jadi bisa tahu BAGAIMANA DAN SEPERTI APA ITU UNIVERSITAS NEGERI MALANG. Wonderful… Ya…taulah, di postinganku sebelum-sebelumnya dan juga di dalam curhatan buku antologiku, impiannku adalah bisa kuliah di luar kota, di kampus besar. Meskipun kenyataanya aku hanya bisa menyimpan mimpi-mimpi itu dalam tidurku.

Dan inilah penampakan kampus yang entah kapan aku bisa datang lagi ke sini… #AlahNisNis







Ok. Cukup tentang impian yang tetap menjadi mimpi itu. Sekarang sampailah pada acara utama. Goes to Perpus Kota Malang. Pertama kali sampai di tempat ini, ramai. Katanya pada hari itu ada pasar minggu, pasar yang rutin muncul di setiap minggu pagi. Banyak anak-anak muda bergerombol, berpasangan atau berjalan sendiri menyusuri sepanjang jalan yang saat itu lebih tampak seperti pasar beneran. Banyak penjual berbagai macam barang, makanan, minuman dan semua yang menurut mereka bisa dijual. Sempat terlihat pula kerumunan orang dengan berbagai binatang langka ditubuh mereka.
Di halaman depan kami disambut lagi oleh stan-stan berbagai penerbit yang menjajakan buku-buku dengan beragam diskon. Ternyata saat itu juga ada bazar buku dan aku sangat suka bagian ini. Buku-buku dnegan harga murah??! Berani-beraninya mereka menyodoriku tumpukan berbagai ragam buku dan novel di saat dompet tipis begini. Rasanya buku-buku itu menantang, seberapa kuat imanku untuk tak membeli mereka. Dan, pada akhirnya aku pun tergoda dan membawa pulang beberapa. *Ah… paling nggak tahan sama rayuan maut si buku.

Now…??? Kampus Fiksi??? Bukankah Kampus Fiksi itu tentang Pak Edi? Mbak Ve? Mbak Rina? dan yang lainnya… Lalu di mana mereka???
Nih dia suasana Kampus Fiksi tampak belakang…




Akhirnya aku bisa memenuhi nazarku. Sebuah nazar yang aku ucapkan beberapa bulan lalu sebelum acara Kampus Fiksi 4 di bulan September 2013. Ya, meskipun nazar itu hanya aku ucapkan pada diriku sendiri, aku merasa bertanggung jawab untuk memenuhinya. Sesuatu itu….biar aku saja yang tau. :-)




Oh iya,  aku juga bertemu mbak Lia, peserta KF4 yang juga penulis novel Let Me Love, Let Me Fall dan juga Asti, peserta KF1 yang telah merelakan tempat tidur kostnya aku tempati di hari keduaku di Malang. Thanks Asti, atas semua bantuanmu selama di kota yang asing bagiku itu.


Hari senin, dan aku harus pulang. Harusnya dari kemarin aku sudah pulang, namun karena tiket kereta hanya ada jam 14.00 dan saat itu acaranya belum selesai lalu jadwal selanjutnya baru jam 08.00 pagi maka aku dan teman-teman harus menunggu sehari lagi. (Untung dapat tempat menginap lagi. Sekali lagi thanks Asti)




Belum selesai dengan kaki yangpegal linu, mata yang masih enggan terbuka lebar, aku dan Rina, kawanku langsung kembali dengan rutinitas. Mengerjakan tugas kuliah. Belum pulang, belum ganti baju, ransel masih di punggung dan kami menuju tempat janjian mengerjakan tugas. Ya… inilah ceritaku… apa ceritamu, ke 150 peserta KF Malang???
Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools